Suatu fenomena yang menarik terjadi belakangan ini. Ada cuplikan video yang berisi komentar Saudara Daniel Mananta beredar luas.
Jawabannya: Tidak benar, Gereja Katolik dari awal 2000 tahun lalu hingga sekarang selalu melarang dan mengutuk penyembahan patung. Bila menyerang dengan ayat biasanya digunakan dengan mengutip Alkitab Keluaran 20:4-5 - "Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada
Sehingga kemudian bangsa Arab saat itu menjadikan mereka sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara membuat patung-patung yang mereka bayangkan seenaknya. Mereka menyembahnya dan menjadikannya sekutu bagi Allah. (lihat Rahiq al-Makhtum, hlm 37 cet Muntada al-Tsaqafa, Riyadh 2013). Wallahu a’lam
1. Menyembah Sesuatu Selain Allah. Menyembah sesuatu selain Allah adalah termasuk syirik yang paling berat dan tinggi. Orang syirik ini menyembah benda-benda, patung, batu, kayu, kubur bahkan manusia dan lain-lainnya. Mereka percaya bahwa benda-benda (makhluk) tersebut adalah tuhan-tuhan yang dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan. 2.
Kebudayaan Megalithikum merupakan suatu tradisi dan kebudayaan manusia purba yang menghasilkan batu-batu besar untuk keperluan religius. Hasil Kebudayaan Megalithikum seperti menhir, dolmen, arca, waruga, sarkofagus dan punden berundak dapat memberikan penjelasan kepada kita tentang sistem kepercayaan manusia purba. Sangiran, Tempat Penemuan
Nabi Musa mengajak 70 orang menyertainya ke Bukit Sinai. Selama kepergiannya Nabi Harun menjadi pemimpin Bani Israil. Bani Israil lalu menyembah patung berbentuk anak sapi yang dibuat Samiri
.
gambar orang menyembah patung